Senin, 14 April 2008

KISAH CINTA DI ESKA

Jum’at, 6 Februari 2004
Ada lagi percikan-percikan asmara yang terus mengejarku. Apakah ini hanya bayang-bayang yang sekelebatan berlarian ke sana-kemari? Aku benar-benar tak tahu. Jangan-jangan ini hanya bagian dari episode kemarin yang pada saatnya nanti pasti berlalu. Akankah hatiku tersandung dengannya. Dan memulai cerita baru lagi. Cerita yang kelak akan menjadi sejarah bisu dan terpatri di jiwaku.Tuhan, jangan kerdilkan jiwa hamba-Mu ini menghadapi kenyataan hidup. Jadikan hamba seperti Ibrahim yang tak gentar kepada siapapun dan siap menanggung segala resiko.

BERSAMBUNG...

DIARY CINTA DI ESKA...

Senin, 26 Januari 2004
Pantai Trisik Kulon Progo adalah saksi bisu atas semua yang telah terjadi padaku. Malam itu, mataku tertutup kain hitam. Aku dan teman-teman dibuat bak boneka oleh panitia workshop Teater ESKA. Tanpa alas kaki, kami menyusuri ruas jalan setapak hanya dengan mengandalkan insting. Kaki tertusuk duri, menginjak serpihan batu dan cadas-cadas tajam. Aku rasakan anggota tubuhku serasa mau lepas satu persatu. Dengan arah yang berlawanan, mereka—para panitia, menarik kedua lenganku dengan kencang. Bentakan-bentakan pedas dan makian sudah bukan mahluk asing lagi di telingaku. “Awas! jangan sampai lepas pegangan kalian!!” teriak mereka yang terus terngiang di telingaku malam itu.
Esok pagi, dramatikal mengerikan kembali terulang. Di bawah terik mentari yang menyengat, kami dipaksa berekspresi di pasir pantai yang membara itu. Dahsyat! Pasir yang membara itu seketika menyelomot sekujur tubuhku. Ini adalah penyikasaan gaya baru sebagai salah satu syarat menjadi anggota komunitas seniman. Yang ada di benakku hanyalah harapan, semoga ekspresi di atas pasir ini lekas beralih ke bibir pantai. Lantas aku akan berguling-guling di air sampai puas!!
Namun apa yang terjadi?! Ekspresi di pasir ternyata berlangsung cukup lama sampai di batas kesabaran yang tipis. Dari gaya kapas terhempas air, gaya kuda meringkik, gaya cumi-cumi, cacing menggeliat, hingga gaya kura-kura merangkak, semua itu harus kami lakukan di atas bara pasir.
Aku berguling-guling, merayap, meloncat, merangkak. Raut wajahku merah-padam. Rambutku menjadi tempat adonan pasir. Bersimbah! Sungguh kenangan yang tak terlupakan sekaligus menyenangkan!
Ups! Aku mendapat kenalan baru. Sayang, aku hanya bisa mengagumi. Tak berani mencintai dia. Terlalu traumatik. Aku terlalu dihantui berbagai resiko. Ah, biarlah aku menikmati ayunya saja. Aku masih ingin merdeka. Terbebas!!
[Hingga sore ini, sekujur tubuhku masih terasa pegal-pegal.]
BERSAMBUNG...

Sabtu, 05 April 2008

Ada yang tahu ini wajah siapa saja ini? Inilah para arsitektur rumah Eska. yang stress mikirn auditorium di ratakan dengan tanah..! Kirim sms sebanyak-banyaknya kepada yang bersangkutan! Buruaaaaaaaaan...!

Rahmat HS

Pria dengan rambut ghondrong ini sedang berusaha menyelesaikan novelnya yang belum memiliki judul itu. Semenjak aktif di Sanggar ESKA, pria dengan tampang sangar tetapi berhati sunda ini cukup lembut dalam tegur sapa, jadi santai saja untuk tersenyum pada dia.

Walaupun cukup mapan dalam menguasai property teater hingga lighting panggung. Tadisisihkan untuk menulis yang menjadi bagian dari dirinya. Buktinya sebuah novel saat ini berada di dalam genggamannya..(Tapi belum tahu nih kapan diterbitkannya)

Kini, Rahmat seneng "bersemedi" untuk mencari inspirasi untuk novelnya. Akan tetapi dibalik itu sema, Rahmat saat ini menjadi arsitektur dalam membangun "Rumah Eska" yang saat ini sedang digarap bersama teman Eska.

Kamis, 03 April 2008



Woi.. Bang Canaka, dimana kau saat ini? banyak obrolan mengalir tentang kau bang di Jakarta, Yogyakarta, di Kediri juga! Ada yang bilang kau sibuk di Dephan sekarang, ada juga yang bilang kau sibuk di apartemennya Muis,,. Nah, yang lagi hangat, ada yang bilang kau berada di Sulawesi? Lha yang bener yang mana ni bang? Kasih kabarlah, kasihan "Oo" yang merana menunggu kabar darimu...

Waktu berjalan mengiringi detik jam yang menempel di dinding. Saat ini, jarum detik waktu itu sudah mengarah di angka 6, tapi sayang kita tidak tahu itu angka 6 untuk pagi hari atau memang untuk hari sudah sore...!

Selasa, 01 April 2008

RamadhanTungku Waktu dalam Tadarus Puisi Teater Eska

RamadhanTungku Waktu dalam Tadarus Puisi Teater Eska
Oleh Agnes Rita

Sulistyawaty Jika aku berjihad semoga yang kulawan diriku sendiri saja/Jika aku gugur di medan laga, toh kematian tak lagi bermakna/Semoga jiwaku hanya engkau saja penggenggamnya. Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata yang diteriakkan seorang berpakaian putih di atas kursi singgasananya, tiga mayat yang masih terbungkus kafan bangkit dari peti, begitu pula tiga orang berpakaian serba putih terjaga dari lelap mereka. Menit-menit berikutnya, bait puisi-puisi karya Matori A Elwa diucapkan bergantian dari para pemain.

Inilah Tadarus Puisi XIII berjudul Tungku Waktu yang dibawakan Teater Eska Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga pada, Minggu (8/10) di sebuah lapangan terbuka di gedung lama Fakultas Tarbiyah kampus setempat. Pertunjukan sekitar 45 menit itu hendak menggugat persoalan waktu, dengan "meminjam" kata-kata dari Matori, penyair kelahiran 6 September 1965, terutama dari kumpulan puisi bertajuk Negeri Rajah Istighfar.

Jejen Fauzan, penulis naskah, mengaku tertarik dengan puisi bertema waktu. Dalam proposal, Teater Eska ingin mempertanyakan kembali perilaku manusia untuk berburu kesenangan yang pada akhirnya hanya berhadapan dengan dinding kosong. Di antara lantunan bait-bait puisi secara bergantian, musik yang digarap Dadang Hermawan berusaha memberi suasana gaib pada pertunjukan. Tidak hanya bunyi suling atau kendang saja yang dihadirkan malam itu.
Lengkingan gitar dan entakan drum juga ikut memberi kesan mistik. Tadarus yang disutradarai Musfiq Ch tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang sempat juga mengusung musik hardcore dalam pertunjukan.

Gerak stakato atau terpatah-patah yang sempat dihadirkan beberapa kali dijadikan simbol untuk menggambarkan perguliran waktu yang selalu mencatat kebobrokan tingkah manusia. Perputaran waktu juga digambarkan pula dengan sejumlah kata atau gerak yang dilakukan berulang kali. Para personel Teater Eska mati-matian menolak adanya penokohan dalam tadarus kali ini. Namun, setting panggung yang bernuansa alam kuburan telah menggiring imajinasi penonton untuk menyebut para aktor itu seperti "tokoh" mayat serta sosok putih yang melambangkan "penghuni" lain dalam kehidupan manusia berikutnya. Begitu pula keinginan Teater Eska untuk menampilkan puisi tanpa diembel-embeli teater didalamnya.

Usaha ini masih berbenturan dengan kenyataan di atas panggung, yakni akting pemain yang sangat teatrikal, antara lain dengan melakukan pengulangan kata secara berbisik-bisik dan gerak panggung para pemain yang begitu dinamis dari satu tempat ke tempat lain. "Pentas ini adalah teks yang bebas dibaca apa pun oleh penonton. Kami juga berusaha agar tidak ada penokohan dalam lakon malam itu," tutur Musfiq Ch. Acara tahunan Tadarus puisi merupakan kebiasaan yang dipersembahakan Teater Eska setiap tahun, pada bulan Ramadhan. Kegiatan yang diadakan setelah shalat tarawih malam itu dimaknai oleh tim Teater Eska sebagai bagian dari upaya membangun religiusitas di kampus UIN Sunan Kalijaga.

Nama tadarus belum ditemukan definisi bakunya. "Kami juga berharap bisa memberikan alternatif membawakann tadarus," kata Musfiq. Di tengah akting teater yang membawakan puisi malam itu, para pendukung acara, baik pemain, sutradara, maupun penata musik mengakui keterbatasan waktu untuk mengeksplorasi penampilan mereka malam itu. Seluruh persiapan pementasan ini tergolong singkat, hanya 25 hari saja. Maklumlah, bila pentas diundur lagi, sebagian personel Teater Eska sudah mudik ke kampung halaman masing-masing.